That is what holiday gets you to do. I hate holiday.
(Never knew there'd come a day I'd say such thing!)
It's not that I don't appreciate the extra time to sleep and rest... and not to mention, working on my rusting skill of football-betting (ha!) but still, it's a bit unsettling to have nothing to do.
Hanging out with friends soon lost its fun - also, some of them are already back home or else unavailable.
I did meet with Dewi and Ivonne and spent a raoucous afternoon at Taman Anggrek. It's not the same with what we did a few weeks before though, when I was there with Feby and Lydia, waiting for Jenny and Connie to show up.
We roamed around the mall, hollering the place down with what people might say the typical Ambonese laughter. It took Jenny and Connie such a long time that we decided to wait at Dunkin' Donuts. I believed the place's staffs were relieved when I got up and left, having been waiting until the last minute before I had to hurry to another appointment. (And still those girls hadn't shown up!)
Lydia was no fun, either. Her office only granted one day off for Christmas and later, the New Year.
Anyway, I seemed to succeed a bit in turning Lydia's idea of having a pet. Although she's yet to admit that dogs are the best, she's now obsessed with African Grey parrot.
It is scientifically proven that the certain species, instead of merely mimicking people spoken words, is capable of actual communication (answering questions) and solving problems.
I told her of this story I read in Reader's Digest about an African Grey who actually joked about a possibility of a fellow bird's demise.
The African Grey lived with this pet bird of another type, named Paco. One day when his owner was preparing a turkey for Thanksgiving dinner, the African Grey took one look at the dead bird and pretended a horrified look, exclaiming dramatically, "Oh no, Paco!"
His owner tried to stifle her laugh, staring at him in half disbelief, half amusement, "No, it's not Paco. See, he's there." At that, the African Grey laughed, seemingly satisfied that he'd successfully pulled her leg.
Lydia rolled off her bed listening to the story. Last night, I tried "poisoning" her with my fave story of the dog with ten children to play with.
This woman was out, hanging up the laundry when she noticed a large, exhausted-looking dog trotting into her garden. The dog didn't look dangerous so she did nothing. She also decided to let him in when he followed her to the side door. Once inside, the dog found himself a comfortable corner and settled down to sleep. After an hour of restful siesta, the dog got up and asked to be let out.
The next day, the same thing happened again. The dog came at the same hour, asked to be let in and slept at the corner. After an hour he woke up and went away.
Judging by the fact that he looked well-nutritioned and wore a collar, the woman figured he's not a stray. Curious, one day she tied a note to the dog's collar. Your dog has been coming to my house everyday to sleep.
The next day, the dog's back with the reply, He lives in a house with ten little children. He needs to catch up on his sleep.
That wasn't the funniest yet; I also told her about the shoot-me dog.
But what am I doing here, talking about dogs? Well, actually, I just got a new book the other day, The Dog who Spoke with Gods. Almost done with it now, sigh. It's such an interesting book, telling of a certain good-natured pitbull, mistakenly considered a feral animal and taken under callous, indifferent "scientific" observation and subjection.
Despite Indonesians' indifference toward dogs, I'm grateful that at least, the usage of e-collar is still alien in this part of world.
And while I'm in a somber mood, let me extend my heart-felt sympathy to the victims of the earthquake in the northern part of Sumatra. The same sentiment to the victims from the three other countries, India, Sri Lanka and Thailand. Be brave and God be with you.
Lolling Around Doing Nothing
|Listening to: Once In A Blue Moon
albiceleste | 03:23 p.m. | Monday, December 27, 2004
New Terms, New Classes and Every Other Things New
|Listening to: I Need An Angel - Ruben Studdard
Yihaa... Akhirnya dah keluar hasil drawing untuk putaran berikut Champions League. Gileee, hasilnya mematikan gitu.
Nih daftar lengkapnya; pertandingan first leg tu tanggal 22/23 Februari. Second leg 8/9 Maret.
Yang pasti mereka-mereka yang masuk putaran kedua ini emang pantas lolos. Pantesan aja partai-partainya ganas-ganas gini. Paling yang berani gw prediksi cuma partai Bremen ama Lyon - pemenangnya mestinya Bremen. Tapi omong-omong, Pauleta sekarang di Lyon ya?
Kemaren, tumben Madrid maennya hari Minggu. Jadi daku bisa liat aksi kekasihku, teehee.
Tapi kenapa ya, akhirnya jadi setengah match lagi? Gw masuk begitu babak pertama kelar. Tapi udah puas kok, apalagi ditambah foto-foto kiriman Didi. Eni salah satunya :
Gak keliatan udah lewat 17 taun ya.
Omong-omong soal 17 taun ke atas dan ke bawah, gw agak-agak butuh penyesuaian ngajar anak-anak 17 taun ke atas, nih.
Maklum, term kemaren ngajarnya kelas Green ama YAC sih. Sekarang kelas YAC cuman atu, banyakan GE (=General English). YAC-nya YAC 6 tapi of course, anak-anaknya masih SMP. Agak-agak kurang rame soalnya mereka cuman berempat. Tapi ada atu yang tipe Aditya banget, alias rame en ribut sendiri. "Nasib"nya juga sama kaya Adit, dicela-cela ama temen-temen sekelas, hahaha.
Yang paling rame malah anak-anak Intermediate 2. Itu beneran versi gedenya YAC 3 kemaren. Mereka (harusnya) 13 orang tapi so far, yang masuk selalu sekitar 9an orang. Tapi kemaren pas pertemuan pertama, mereka cuma lima apa empat orang tapi udah berasa sepuluh orang.
Kemaren gw suruh mereka nulis cerita untuk memprediksi lanjutan cerita dari ilustrasi yang gw kasih... hasilnya ajaib-ajaib. Emang gila-gila juga anak-anaknya.
Sayangnya, dia orang masih gampang dibikin binun. Mesti sering-sering digertak nih, hehehe.
Yang Basic 1 diem banget. Apalagi anak baru, mukanya lebih sering bengong gitu. Alhasil gw mesti banyak pantomim. Dah gitu susah lagi dibikin ketawa. Besok mau bawa bulu ayam ah, dikitik-kitik.
Yang rame malah anak-anak ceweknya. Apalagi si Meime. Antusias banget anaknya. Omong-omong dari kelas itu, ada atu makhluk yang bikin gw penasaran karena belom-belom muncul juga. Namanya Sutrisno. Diliat dari nomer telponnya sih, mestinya orang kantoran. Apalagi namanya. Pastinya orang yang lebih tua dari gw.
Waktu gw tanyain pak Nanda, dia pengen tau gimana caranya, kok gw bisa nuduh itu orang lebih tua dari gw. Gw bilangin karena nomer telponnya tentu. Maksud gw nomernya nomer kantoran berarti dia karyawan. Trus namanya Sutrisno, mestinya tu orang setidaknya "setengah" generasi di atas gw - walaupun emang gak mutlak, I know. (Suami temen gw ada yang namanya Suwito.)
Kata pak Nanda, "Lho, kan waktu dia remaja juga namanya Sutrisno." Hahaha. Emang sih, kadang gw "ngelompat-ngelompat"nya terlalu jauh. Asal nebak.
Udah ngasal gitu, nyambung lagi ampe di rumah. Kebenaran nama OB di kantor Lydia juga Sutrisno. "Jangan-jangan pak Sutris sekarang kursus di ILP Ciledug!" kata Lydia. Yee, disuruh belanja ke Glodok aja suka protes, suruh kursus ke Ciledug lagi.
Kelas yang atu lagi sempat bikin gw rada-rada pusing. Berhubung level Intermediate itu metodenya udah agak beda, gw ngejar-ngejar pak Nanda terus, pengen tau mesti digimanain tu anak-anak Inter 4.
Ternyata begitu tau, ah, malah lebih enak begini. Apalagi emang anak-anaknya cepet, diajak diskusi enak banget. Satu-satunya keluhan cuman pulang malem. Hiks. Ntu kelas selesai jam 8. Artinya gw mesti langsung check out immediately begitu selesai. Takut gak dapet angkot!
Kadang kalo dapetpun kadang suka di"buang" begitu. Dasar P16 nyebelin. Kalo udah deket tempat tinggal dia, kita diturunin, suruh ngikut P16 yang di belakang. Mending ada.
Yang kemaren nekat lagi, minta ongkos. Biasanya dia nggak minta ongkos ama yang tujuannya lewat dari daerah Ciledug, apalagi kalo udah mo dibuang. Kalo gak dibuang, penumpang yang jauhan itu jatah sopir "asli." (Sopir yang di dalam area Ciledug itu sopir tembakan.)
Gw bete dong. Kondekturnya gw marahin, "Dah nggak nyampe tujuan, nagih lagi!" Dia cuek beibeh aja lagi. Syebel daku.
Kapan nih, ada busway Grogol-Ciledug? 24 jam juga dong, kalo bisa.
Nih daftar lengkapnya; pertandingan first leg tu tanggal 22/23 Februari. Second leg 8/9 Maret.
Real Madrid-JuventusYang paling pasti harus mesti nonton Barca-Chelsea nih. Kalo disuruh taruhan, gw gak ada bayangan yang bakal menang siapa.
Porto-Inter
Barcelona-Chelsea
Werder Bremen-Lyon
Liverpool-Bayer Leverkusen
PSV Eindhoven-Monaco
Man United-Milan
Bayern Munich-Arsenal
Yang pasti mereka-mereka yang masuk putaran kedua ini emang pantas lolos. Pantesan aja partai-partainya ganas-ganas gini. Paling yang berani gw prediksi cuma partai Bremen ama Lyon - pemenangnya mestinya Bremen. Tapi omong-omong, Pauleta sekarang di Lyon ya?
Kemaren, tumben Madrid maennya hari Minggu. Jadi daku bisa liat aksi kekasihku, teehee.
Tapi kenapa ya, akhirnya jadi setengah match lagi? Gw masuk begitu babak pertama kelar. Tapi udah puas kok, apalagi ditambah foto-foto kiriman Didi. Eni salah satunya :
Gak keliatan udah lewat 17 taun ya.
Omong-omong soal 17 taun ke atas dan ke bawah, gw agak-agak butuh penyesuaian ngajar anak-anak 17 taun ke atas, nih.
Maklum, term kemaren ngajarnya kelas Green ama YAC sih. Sekarang kelas YAC cuman atu, banyakan GE (=General English). YAC-nya YAC 6 tapi of course, anak-anaknya masih SMP. Agak-agak kurang rame soalnya mereka cuman berempat. Tapi ada atu yang tipe Aditya banget, alias rame en ribut sendiri. "Nasib"nya juga sama kaya Adit, dicela-cela ama temen-temen sekelas, hahaha.
Yang paling rame malah anak-anak Intermediate 2. Itu beneran versi gedenya YAC 3 kemaren. Mereka (harusnya) 13 orang tapi so far, yang masuk selalu sekitar 9an orang. Tapi kemaren pas pertemuan pertama, mereka cuma lima apa empat orang tapi udah berasa sepuluh orang.
Kemaren gw suruh mereka nulis cerita untuk memprediksi lanjutan cerita dari ilustrasi yang gw kasih... hasilnya ajaib-ajaib. Emang gila-gila juga anak-anaknya.
Sayangnya, dia orang masih gampang dibikin binun. Mesti sering-sering digertak nih, hehehe.
Yang Basic 1 diem banget. Apalagi anak baru, mukanya lebih sering bengong gitu. Alhasil gw mesti banyak pantomim. Dah gitu susah lagi dibikin ketawa. Besok mau bawa bulu ayam ah, dikitik-kitik.
Yang rame malah anak-anak ceweknya. Apalagi si Meime. Antusias banget anaknya. Omong-omong dari kelas itu, ada atu makhluk yang bikin gw penasaran karena belom-belom muncul juga. Namanya Sutrisno. Diliat dari nomer telponnya sih, mestinya orang kantoran. Apalagi namanya. Pastinya orang yang lebih tua dari gw.
Waktu gw tanyain pak Nanda, dia pengen tau gimana caranya, kok gw bisa nuduh itu orang lebih tua dari gw. Gw bilangin karena nomer telponnya tentu. Maksud gw nomernya nomer kantoran berarti dia karyawan. Trus namanya Sutrisno, mestinya tu orang setidaknya "setengah" generasi di atas gw - walaupun emang gak mutlak, I know. (Suami temen gw ada yang namanya Suwito.)
Kata pak Nanda, "Lho, kan waktu dia remaja juga namanya Sutrisno." Hahaha. Emang sih, kadang gw "ngelompat-ngelompat"nya terlalu jauh. Asal nebak.
Udah ngasal gitu, nyambung lagi ampe di rumah. Kebenaran nama OB di kantor Lydia juga Sutrisno. "Jangan-jangan pak Sutris sekarang kursus di ILP Ciledug!" kata Lydia. Yee, disuruh belanja ke Glodok aja suka protes, suruh kursus ke Ciledug lagi.
Kelas yang atu lagi sempat bikin gw rada-rada pusing. Berhubung level Intermediate itu metodenya udah agak beda, gw ngejar-ngejar pak Nanda terus, pengen tau mesti digimanain tu anak-anak Inter 4.
Ternyata begitu tau, ah, malah lebih enak begini. Apalagi emang anak-anaknya cepet, diajak diskusi enak banget. Satu-satunya keluhan cuman pulang malem. Hiks. Ntu kelas selesai jam 8. Artinya gw mesti langsung check out immediately begitu selesai. Takut gak dapet angkot!
Kadang kalo dapetpun kadang suka di"buang" begitu. Dasar P16 nyebelin. Kalo udah deket tempat tinggal dia, kita diturunin, suruh ngikut P16 yang di belakang. Mending ada.
Yang kemaren nekat lagi, minta ongkos. Biasanya dia nggak minta ongkos ama yang tujuannya lewat dari daerah Ciledug, apalagi kalo udah mo dibuang. Kalo gak dibuang, penumpang yang jauhan itu jatah sopir "asli." (Sopir yang di dalam area Ciledug itu sopir tembakan.)
Gw bete dong. Kondekturnya gw marahin, "Dah nggak nyampe tujuan, nagih lagi!" Dia cuek beibeh aja lagi. Syebel daku.
Kapan nih, ada busway Grogol-Ciledug? 24 jam juga dong, kalo bisa.